Sedikit saja tidak mengikuti trend masa kini, kita akan dikatakan tidak up to date atau entahlah ungkapan-ungkapan asing dan bahasa gaul lainnya seolah menuding langsung pelaku yang ketinggalan jaman. Sebenarnya kata-kata atau ungkapan tersebut sepintas tidak bermasalah. Masalahnya trend muslim kebanyakan menurut mereka tidak modern. Mengapa demikian?


Misalnya pada pakaian. Tak banyak yang peduli, yang penting mengikuti model baju yang terbaru, serba terbuka, feminisme (untuk wanita). Untuk pria juga sama, mengenakan pakaian yang full press body, yang kainnya saja tipis sekali. Bukan bermaksud mengejek, hanya di mana identitas muslim Anda?

Muslim Kaum Terbaik
Muslim kaum terbaik adalah hal yang tak perlu diragukan lagi. Namun entah mengapa, identitas seorang muslim seperti bersorban dan mengenakan pakaian taqwa (busana muslim) dan berkerudung menutup aurat seolah menjadi hal yang kuno. Masih tidak percaya? Baca QS. Ali Imran {3}:110

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.”

Mengikuti up date terbaru tidak masalah selama masih berada dalam batasan Islam. Semisal kerudung dengan motif berenda atau sorban yang dibordir. Terkadang saya sendiri pulang dari masjid setelah menghadiri suatu kajian tafsir al quran setelah shalat isya’. Sungguh melegakan dan membasuh jiwa yang sebelumnya kotor.

Ternyata dalam perjalan pulang, pandangan mata saya lurus ke depan sambil mengayu sepeda, melihat sekelompok wanita berjalan mengenakan pakaian yang, maaf- feminim- dengan bau harum semerbak yang dapat saya hirup baunya hingga insya Allah kurang lebih lima meter. Tentu seorang pria yang melihat hal tersebut, hati sudah dibasuh dengan ayat-ayat Allah mulai galau lagi, kecuali hati yang dirahmati Allah. Padahal Allah berfirman dalam QS. An Nur {24}:31

“Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. ”

Sementara untuk pria, menutup aurat mulai dari pusar lutut sebagaimana pesan Rasulullah:
“Aurat laki-laki ialah antara pusat sampai dua lutut”. [HR. ad-Daruquthni dan al-Baihaqi, lihat Fiqh Islam, Sulaiman Rasyid].

Kemudian berjenggot. Imam Al-Bukhari dan Muslim di dalam kitab Shahih keduanya dari hadits Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma dia berkata. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Selisihilah orang-orang musyrik, potonglah kumis (hingga habis) dan sempurnakan jenggot (biarkan tumbuh lebat).” Shahih Al-Bukhari, kitab Al-Libas (5892, 5893), Shahih Muslim, kitab Ath-Thaharah (259).

Di dalam shahih Muslim dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Potonglah kumis dan biarkanlah jenggot memanjang, selisihilah orang-orang Majusi”. Shahih Muslim, kitab Ath-Thaharah (260)

Selain gambaran fisik, secara non-fisik seorang muslim dapat dilihat dari tingkah lakunya, seperti tidak sombong, bersabar, berbakti kepada kedua orang tua, amanah, dan masih banyak lagi.

Identitas Muslim Bukan Identitas Buruk
Terjadi salah pengertian yang terlanjur ada di masyarakat. Seperti mengidentikkan teroris atau pelaku kriminal ulung dengan seorang wanita yang bercadar, berkerudung atau seorang pria yang mengenakan pakaian terkatung, bersorban dan berjenggot.

Media juga berpengaruh terhadap penyebarluasan suatu anggapan yang sengaja digencar-genjarkan oleh musuh-musuh Islam, orang-orang kafir yang membenci kemajuan Islam untuk membuat seolah identitas muslim adalah identitas yang buruk. Padahal banyak mavia, penjahat ulung kelas tinggi yang non muslim, atau tidak menggambarkan sosok muslim yang malah menjadi otak terorisme. Hanya saja tidak banyak disorot media. Itulah hebatnya peran media yang menguah opini masyarakat dalam sekejap.

Di sini saya ingin menegaskan lagi, bahwa identitas muslim adalah identitas kaum terbaik sebagaimana ayat al quran di atas. Mengenai gambaran tentang muslim adalah teroris tak perlu dihiraukan. Hal yang perlu diingat, identitas muslim bukan identitas Bangsa Arab yang tidak berlaku di Indonesia atau negara manapun. Akan tetapi identitas muslim adalah pengenal diri sebagai pribadi muslim yang mulia.

Sumber : http://firmanazka.blogspot.com