Teman identik dengan sesuatu yang dekat hubungannya dengan kita. Tak dapat disangkal, karena teman dapat menjadikan hidup kita lebih bermakna. Karena temanlah berbagai persoalan yang kita utarakan kepadanya, hati kita menjadi damai.

Memilih teman kerja yang baik tentu menjadi rujukan utama kita demi kelancaran usaha kita. Berbagai kriteria teman-teman terbaik telah kita miliki. Akan tetapi sudahkan teman tersebut terbaik juga dalam pribadi Islam? Dapatkah teman kita memberikan semangat yang luar biasa untuk kita dalam hal beribadah?Akibat Salah Memilih Teman
Seorang mahasiswa yang dikenal sebagai pribadi muslim yang baik, mempunyai teman akrab yang selalu ia ada bersamanya. Tak terkecuali seharipun. Bahkan terlalu akrabnya mahasiswa ini hingga ia pun juga suka apa yang temannya sukai.

Suatu ketika mahasiswa tersebut diajak teman akrabnya ke sebuah warung kecil dipinggir jalan. Di tengah gelapnya malam, ia pun menikmati makanan bersama teman akrabnya. Beberapa saat kemudian, tak disangka teman akrabnya menawarkan minuman keras yang tentu dia mengetahui bahwa itu haram. Awalnya menolak, tetapi karena dipaksa oleh temannya meminum seteguk gelas kecil minuman keras akhirnya ia pun meminumnya. Tak disangka, barang haram kini pun masuk ke dalam tubuhnya.

Kemudian keduanya pulang mengendarai motor. Di tengah jalan yang sepi, tiba-tiba sebuah truk melaju kencang dari arah berlawanan. Karena mabuk, motor yang dikendarai keluar jalur jalan. Tabrakan pun tak terhindar. Tewaslah mahasiswa muslim yang baik dan seorang temannya dalam keadaan suul khatimah (mati dalam tercela).

Tentu tak lagi asing mendengar cerita di atas atau cerita yang serupa. Seorang muslim yang salah memilih teman, walaupun ia sendiri suka berbuat kebajikan namun apa guna kebajikan yang ia lakukan bila mati dalam keadaan tercela. Hapuslah pahala kebajikannya dan ia mati tidak dalam khusnul khatimah (mati dalam kebajikan). Berhasillah syetan memperdayainya. Naudzubillah

Maka yang ada selanjutnya hanyalah penyesalan ketika di akhirat seperti dalam QS. Al Furqan {25}:8

“Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan sifulan itu teman akrab(ku).”

Kriteria Teman Berpribadi Islam
Betapa penting memilih teman yang baik. Karena temanlah yang selalu kita jumpai dalam aktivitas kehidupan kita hingga dapat mengubah perilaku kehidupan kita. Lalu bagaimana kriteria teman yang baik menurut Islam? Dalam QS. An Nisa {4}:69 disebutkan

Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin (teguh membenarkan Rosul), orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.

Bahkan Rasulullah SAW menjadikan seorang teman sebagai patokan baik dan buruknya agama seseorang, oleh sebab itu beliau shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kepada kita agar memilah dan memilih kepada siapa kita bergaul. Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW bersabda:

“Perumpamaan teman duduk yang sholeh dan teman duduk yang buruk ibarat penjual parfum dan peniup api/tukang besi. Adapun penjual minyak wangi maka; boleh jadi kamu akan diberi hadiah, kamu membeli minyak wangi tersebut atau kamu mencium darinya bau yang wangi. Adapun peniup besi/pandai besi; kalau dia tidak membakar pakaianmu maka kau akan mendapat bau yang tidak sedap darinya. (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam hadis lain disebutkan

“Sesungguhnya seseorang itu berada di atas agama teman akrabnya, maka hendaknya seseorang diantara kamu melihat siapa yang dia jadikan teman akrab”. (HR Imam Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi, Hakim, dengan sanad yang saling menguatkan antara satu dengan yang lain).

Disini saya dapat memberikan kesimpulan bahwa teman sejati kita adalah orang yang selalu mendorong kita untuk berbuat kebajikan dan mencegah kita dari berbuat kejelekkan, walaupun kita jauh dan tidak tidak bergaul dengannya. Dan musuh sejati kita adalah orang yang mendorong kita berbuat kejelekkan dan tidak mencegah kita dari berbuat dosa, walaupun ia dekat dengan kita dan kita selalu bergaul dengannya. Solusi tepat untuk kita adalah dengan banyak-banyak mengingat Allah.
Generasi kita yang memang di jaman modernisasi juga turut terbawa arus maksiat. Dibutuhakan peran orang tua dalam membangaun generasi muda.
Dan kita sebenarnya tidak perlu sungkan atau risih terhadap identitas ketaqwaan kita kepada orang lain. Karena hal itulah yang menjadi penyebab kita meniru jalan yang salah dari orang lain.
Sudahkah teman Anda mengajak kepada Anda kepada kebaikan hari ini?

Sumber : http://firmanazka.blogspot.com